Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 537
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Comment

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolda Bali Cek Kondisi Kesiapan Pemilu di Kabupaten Jembrana

    Kapolda Bali Cek Kondisi Kesiapan Pemilu di Kabupaten Jembrana

    • calendar_month Selasa, 13 Feb 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Polres Jembrana menerima kunjungan Kapolda Bali Irjen Pol. Ida Bagus Kade Putra Narendra, S.I.K., M.Si. dalam rangka pengecekan kesiapan Pemilu 2024, Selasa (13/02). Ada 3 titik lokasi yang didatangi dimana kesiapan dalam rangka pesta demokrasi pemilu. Kunjungan Kapolda melihat TPS- TPS di Pendopo Kesari, Di SD Swastika Karya dan Desa Tukadaya. Di […]

  • Komandan Kodim 1617/Jembrana Penggemar Otomotif dan Pecinta Binatang

    Komandan Kodim 1617/Jembrana Penggemar Otomotif dan Pecinta Binatang

    • calendar_month Minggu, 23 Jul 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 623
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Komandan Kodim 1617/Jembrana Letkol Inf.Teguh Dwi Raharja, S.sos. yang menggemari otomotif dan juga mengkoleksi binatang, merupakan sosok yang murah senyum. Dicelah tugas kesibukan tugas dan tanggung-jawab di militer, adalah mengisi senggang waktu. Memanfaatkan waktu secara baik dan terjadwal tentu hal yang mengasikkan. Selain rutin berolahraga lari sore, kecintaan pada dunia otomotif hal […]

  • Wabup Ipat Ajak HNSI Jembrana Sukseskan Pembangunan PPN Pengambengan

    Wabup Ipat Ajak HNSI Jembrana Sukseskan Pembangunan PPN Pengambengan

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 1.602
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna mengajak seluruh nelayan yang tergabung kedalam HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Kabupaten Jembrana untuk bersama-sama mendukung dan mensukseskan pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengembangan yang direncanakan akan dimulai pada bulan November 2025. Ia menekankan bahwa pembangunan pelabuhan ini bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang […]

  • Tampil Memukau di Pesta Kesenian Bali Gong Kebyar Tegalcangkring

    Tampil Memukau di Pesta Kesenian Bali Gong Kebyar Tegalcangkring

    • calendar_month Kamis, 4 Jul 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 614
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Paguyuban Seniman Muda (PSM) Jembrana, Kelurahan Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana tampil pada utsawa (parade) Gong Kebyar Dewasa, Pesta Kesenian Bali ke-46 di panggung terbuka Ardha Candra, kawasan Art Center Denpasar, pada Rabu (3/7). PSM Jembrana merupakan perhimpunan seniman-seniman muda dari 5 Kecamatan di Kabupaten Jembrana, yang bergerak dalam bidang seni pertunjukan […]

  • Gencarkan Penanganan Stunting Balita, Babinsa Monitoring di Posyandu Desa Sidan

    Gencarkan Penanganan Stunting Balita, Babinsa Monitoring di Posyandu Desa Sidan

    • calendar_month Selasa, 6 Agt 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Gianyar suarajembrana.com – Target penurunan angka stunting terus berjalan dan fokus pada penurunan prevalensi di desa. Penanganan stunting memang harus ada komitmen bersama seluruh stakeholder terkait sehingga angka prevalensi di bisa menurun Salah satunya Babinsa Desa Sidan Sertu I Wayan Mardika melaksanakan monitoring kegiatan Posyandu di Banjar Jageperang, Desa Sidan Kecamatan, Kabupaten Gianyar, Selasa (6/8/24). […]

  • Polres Tanam Padi, Dukung Program Ketahanan Pangan 100 Hari Kerja Presiden RI

    Polres Tanam Padi, Dukung Program Ketahanan Pangan 100 Hari Kerja Presiden RI

    • calendar_month Sabtu, 9 Nov 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Dalam rangka mendukung Program Ketahanan Pangan yang menjadi salah satu fokus dalam 100 Hari Kerja Presiden RI, personil Polres Jembrana melaksanakan kegiatan penanaman padi di area persawahan milik Aipda I Ketut Suteja di Banjar Benel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Jumat (8/11) pagi. Dipimpin oleh Waka Polres Jembrana, Kompol I Gusti […]

expand_less