Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 489
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Comment

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Kembang Hartawan Dorong Petani Gunakan Alsintan Agar Lebih Efisien dan Optimal

    Bupati Kembang Hartawan Dorong Petani Gunakan Alsintan Agar Lebih Efisien dan Optimal

    • calendar_month Jumat, 21 Mar 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 639
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Bupati Jembrana Kembang Hartawan menghadiri acara Penyerahan alat dan mesin pertanian/Alsintan kepada Nasabah Penerima Kredit Usaha Alsintan dari PT Bank BPD Bali Cabang Negara di Desa Kaliakah pada Jumat (21/3/2025). Alsintan yang diserahkan adalah 4 Combine Harvester dengan merek Yanmar (Combine Harvester Type YH 850) dan Kubota (Mesin Combine Harvester DC-70 Pro + […]

  • Kedai Tempresso Negara Kota Kecil Yang Tampilkan Haus Musik Hiburan

    Kedai Tempresso Negara Kota Kecil Yang Tampilkan Haus Musik Hiburan

    • calendar_month Minggu, 2 Jul 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 584
    • 0Komentar

    Jembrana (suarajembrana.com) – Kota kecil Negara di Kabupaten Jembrana merupakan Bali Barat yang orisinil dengan nuansa alam dan pusat hilir mudik dari Bali ke Pulau Jawa begitu sebaliknya. Nuansa romantis perjalanan tentu tak lepas dari iringan musik baik itu melankolis mau pun tembang kisah kehidupan. Satu Kedai Tempresso yang selalu dilintasi yang sering menampilkan musisi […]

  • Pengukuhan Bendesa Adat Pergung, Wabup Ipat Tekankan Sinergi Adat dan Dinas

    Pengukuhan Bendesa Adat Pergung, Wabup Ipat Tekankan Sinergi Adat dan Dinas

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 3.852
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Bertepatan dengan Rahina Purnama Katiga, Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna (Ipat), menghadiri acara pengukuhan Bendesa dan Prajuru Desa Adat Pergung, Kecamatan Mendoyo, pada Minggu (7/9). Acara sakral ini menjadi momentum penting bagi pelestarian adat dan budaya Bali di tengah perkembangan zaman. Pengukuhan Bendesa Adat untuk masa ayahan 2025–2030 ini dilakukan […]

  • Pemkab Jembrana Pacu Kompetensi CaNaker Untuk Pasar Kerja Ke Jepang

    Pemkab Jembrana Pacu Kompetensi CaNaker Untuk Pasar Kerja Ke Jepang

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 681
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Komitmen Bupati dan Wakil Bupati Jembrana dalam membuka peluang kerja seluas-luasnya bagi generasi muda kembali ditegaskan. Pemerintah Kabupaten Jembrana terus mendorong warganya, khususnya kalangan muda, agar mampu bersaing dan memperoleh kesempatan bekerja ke luar negeri. Jepang menjadi salah satu negara tujuan yang kini tengah dipersiapkan secara serius oleh Pemkab Jembrana. Teranyar, Pemkab Jembrana […]

  • Memiliki Riwayat Gangguan Jiwa, UH Akhiri Hidup Dengan Bakar Diri

    Memiliki Riwayat Gangguan Jiwa, UH Akhiri Hidup Dengan Bakar Diri

    • calendar_month Senin, 26 Agt 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 702
    • 0Komentar

    Jembrana, suarajembrana.com – Seorang ibu rumah tangga UH (31) asal Desa Cupel, Negara, nekat mengakhiri hidup dengan membakar diri di dalam dapur miliknya, pada hari Minggu 25 Agustus 2024. Ibu anak satu ini ditemukan sudah dalam kondisi hangus terbakar, diduga korban diduga mengalami gangguan jiwa. Menurut informasi, peristiwa mengenaskan ini terjadi sekitar pukul 13.30 wita. […]

  • Membludak Ribuan Offroader Turun di Ajang Adventure Community JAC

    Membludak Ribuan Offroader Turun di Ajang Adventure Community JAC

    • calendar_month Minggu, 10 Agt 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 684
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Event tahunan Jembrana Adventure Comunity (JAC) yang ke 10 serangkaian Hut Kota Negara ke-130 dan Hut RI ke-80 resmi dibuka Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan bersama Wabup IGN Patriana Krisna bertempat di Lapangan Munduk Kendung, Desa Berangbang, Minggu (10/8/2025). Meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, event JAC ke -10 ini berhasil menghadirkan ribuan crosser […]

expand_less