Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 488
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Comment

Rekomendasi Untuk Anda

  • 22 Nelayan dan Relawan Terima Penghargaan dari Bupati Jembrana Play Button

    22 Nelayan dan Relawan Terima Penghargaan dari Bupati Jembrana

    • calendar_month Selasa, 8 Jul 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 1.692
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Sebanyak 22 orang yang terdiri dari 12 nelayan dan 10 orang relawan yang membantu proses evakuasi korban tenggelamnya kapal penyeberangan Tunu Pratama Jaya mendapat piagam penghargaan dari Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan yang diserahkan di pesisir Pantai Pebuahan, desa Banyubiru, Selasa (8/7). Pemberian penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi Pemerintah kabupaten Jembrana atas […]

  • Polsek Gilimanuk Gelar Patroli Barcode Jaga Situasi Kamtibmas Kondusif

    Polsek Gilimanuk Gelar Patroli Barcode Jaga Situasi Kamtibmas Kondusif

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 369
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Polres Jembrana melalui Polsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk melaksanakan kegiatan Patroli Barcode di sejumlah titik strategis, Senin (25/8/2025), guna memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 11.30 Wita ini dipimpin oleh IPTU Surjadi bersama tiga personel lainnya, yakni AIPTU I Ketut Widiantara, AIPTU I Gede Madia […]

  • GOW Jembrana Ngayah Rejang Renteng, Serangkaian Karya Ida Betare Turun Kabeh Pura Besakih

    GOW Jembrana Ngayah Rejang Renteng, Serangkaian Karya Ida Betare Turun Kabeh Pura Besakih

    • calendar_month Minggu, 31 Mar 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 466
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Rangkaian Upacara Tawur Tabuh Gentuh dan Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih, di desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di kabupaten Jembrana yang terdiri dari Tim Penggerak PKK, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), Dharma Wanita Persatuan (DWP) ngaturang ayah-ayahan tari Rejang Renteng pada Bakti Penganyar […]

  • Unik, Pesona Semarak Kemerdekaan Lomba Lagu Nasional Bersambung dan Dirijen

    Unik, Pesona Semarak Kemerdekaan Lomba Lagu Nasional Bersambung dan Dirijen

    • calendar_month Jumat, 23 Agt 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 1.197
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Cukup unik menyanyikan lagu-lagu nasional dilantunkan secara bersambung dan lomba dirjen anak-anak. Hal ini dilakukan di Banjar Ketapang Muara, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara yang justru banyak diminati anak-anak serta dewasa. Ini merupakan momentum dan edukasi bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Dan salah satunya adalah menyanyikan lagu […]

  • Kembang-Ipat Perluas Jangkauan Beasiswa Mahasiswa Prestasi Hingga Ke Kampus Lokal Jembrana

    Kembang-Ipat Perluas Jangkauan Beasiswa Mahasiswa Prestasi Hingga Ke Kampus Lokal Jembrana

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 694
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Berbeda dari sebelumnya, program beasiswa berprestasi kini juga bisa dinikmati oleh mahasiswa asal Jembrana yang berkuliah di dalam daerah (Jembrana). Sebanyak 126 orang mahasiswa yang mengenyam pendidikan tinggi didalam daerah (Jembrana) memperoleh beasiswa dengan nilai, Rp.1,5 Juta. Beasiswa tersebut terdiri dari 2 kriteria yakni, beasiswa khusus yang berkuliah di UT Cabang Jembrana dan […]

  • Pemkab Genjot Pemuda Jembrana Manfaatkan Program Kredit Bersubsidi Untuk PMI

    Pemkab Genjot Pemuda Jembrana Manfaatkan Program Kredit Bersubsidi Untuk PMI

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 469
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Bekerja di luar negeri masih menjadi salah satu pekerjaan dengan hasil menjanjikan untuk saat ini. Untuk membantu masyarakat mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Jembrana menyiapkan anggaran sebesar Rp.3 Miliar untuk subsidi kredit bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan Peserta Pemagangan Luar Negeri (PPLN). Program ini, menjadi salah satu program prioritas Bupati Kembang […]

expand_less