Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 467
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Comment

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerak Cepat, Bupati Langsung Tinjau Dampak Angin Puting Beliung di Penyaringan

    Gerak Cepat, Bupati Langsung Tinjau Dampak Angin Puting Beliung di Penyaringan

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 295
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Musibah angin puting beliung kembali menerjang wilayah Banjar Tembles, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Selasa sore (9/12). Merespon cepat adanya musibah tersebut, tepat dihari yang sama, Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan meninjau langsung lokasi kerusakan. Berdasarkan data sementara BPBD Jembrana, mencatat adanya tiga bangunan yang terdampak akibat cuaca ekstrem angin puting beliung. Satu […]

  • Komandan Kodim 1617/Jembrana Penggemar Otomotif dan Pecinta Binatang

    Komandan Kodim 1617/Jembrana Penggemar Otomotif dan Pecinta Binatang

    • calendar_month Minggu, 23 Jul 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 536
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Komandan Kodim 1617/Jembrana Letkol Inf.Teguh Dwi Raharja, S.sos. yang menggemari otomotif dan juga mengkoleksi binatang, merupakan sosok yang murah senyum. Dicelah tugas kesibukan tugas dan tanggung-jawab di militer, adalah mengisi senggang waktu. Memanfaatkan waktu secara baik dan terjadwal tentu hal yang mengasikkan. Selain rutin berolahraga lari sore, kecintaan pada dunia otomotif hal […]

  • D’Ghost Band Lantunkan Cinta Terlarang Terlanjur Jatuh Dalam Pelukan Play Button

    D’Ghost Band Lantunkan Cinta Terlarang Terlanjur Jatuh Dalam Pelukan

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 2.900
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – D’Ghost Band lahir karena tertarik ingin menjajal aliran musik baru dari awalnya sebagai solois, kini tergabung di organisasi band. Band ini didirikan 14 februari 2025. Single kedua menceritakan tentang kisah sepasang kekasih yang menjalin hubungan terlarang. Sepasang kekasih yang sama sama mendapatkan kenyamanan dari orang lain dan memilih tinggal dalam hubungan tersebut bahkan […]

  • Mantan Lurah Gilimanuk, Ketut Sukra Negara Dikukuhkan sebagai Pjs Bupati Jembrana

    Mantan Lurah Gilimanuk, Ketut Sukra Negara Dikukuhkan sebagai Pjs Bupati Jembrana

    • calendar_month Selasa, 24 Sep 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 651
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Biro Pemkesra) Sekretariat Daerah Provinsi Bali, I Ketut Sukra Negara resmi dilantik sebagai Penjabat sementara (Pjs) Bupati Jembrana, menggantikan Bupati I Nengah Tamba yang kembali maju di Pilkada Serentak tahun 2024. Pjs Bupati Jembrana kelahiran tanggal 29 Nopember 1968 ini, bukan nama asing bagi dunia birokrasi […]

  • Rakerda Bali Usung Tema Bergerak Maju Wujudkan Pramuka Tangguh Terampil dan Berkarakter

    Rakerda Bali Usung Tema Bergerak Maju Wujudkan Pramuka Tangguh Terampil dan Berkarakter

    • calendar_month Minggu, 26 Mei 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Denpasar suarajembrana.com – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bali (Kwarda Bali) melaksanakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Bali pada Minggu, 26 Mei 2024 bertempat di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali. Rakerda Bali 2024 merupakan forum untuk mengevaluasi Program Kerja Kwarda Bali Tahun 2023, mengintensifkan Program Kerja Kwarda Bali Tahun 2024 serta mensinergikan Progam Kerja Kwartir […]

  • Bupati Jembrana Tekankan Nilai Toleransi Saat Upacara Melasti di Pantai Pengambengan

    Bupati Jembrana Tekankan Nilai Toleransi Saat Upacara Melasti di Pantai Pengambengan

    • calendar_month Jumat, 8 Mar 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Jelang Hari Raya Nyepi umat Hindu menggelar upacara Melasti, termasuk di Kabupaten Jembrana. Pelaksanaan melasti diikuti ribuan masyarakat Hindu Jembrana dipusatkan di lima titik pantai dan pura segara masing-masing kecamatan. Tak terkecuali Bupati Jembrana I Nengah Tamba yang turut hadir bersama istri serta Wabup Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna, mengikuti prosesi […]

expand_less