Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 531
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Comment

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kue Pia Labu Bahagia Oleh-Oleh Khas Jembrana

    Kue Pia Labu Bahagia Oleh-Oleh Khas Jembrana

    • calendar_month Selasa, 12 Sep 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 1.064
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Panganan bahan dasar labu yang biasanya hanya diolah seperti kolak labu, sumping dan kue lumpur. Ternyata bisa diolah menjadi kue yang gurih, renyah, dan enak. Bahkan kini merambah ke pusat oleh-oleh khas Kabupaten Jembrana. Berawal dari sebuah ikut festival lomba pangan lokal di ajang Kolaborasi Bali Era Baru Smart (KBS) Festival 2023. […]

  • Kompak, Bupati Jembrana dan Bupati Badung Hadiri Halal Bihalal di Desa Air Kuning

    Kompak, Bupati Jembrana dan Bupati Badung Hadiri Halal Bihalal di Desa Air Kuning

    • calendar_month Rabu, 15 Mei 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Bupati Jembrana I Nengah Tamba bersama Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta kompak hadir dalam perayaan halal bihalal usai hari suci Idul fitri di Desa Air Kuning Kecamatan Jembrana, Rabu (15/5). Halal Bihalal sebagai bentuk persaudaraan dan kekompakan umat muslim Jembrana dalam wadah menjaga semangat toleransi dengan umat lainnya yang telah terbangun […]

  • Edukasi Polres Jembrana Bertajuk “Polisi Sahabat Anak” di TK Tunas Harapan

    Edukasi Polres Jembrana Bertajuk “Polisi Sahabat Anak” di TK Tunas Harapan

    • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 337
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Dalam rangka mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat sejak usia dini, Satuan Binmas dan Satlantas Polres Jembrana menggelar kegiatan kunjungan ke Taman Kanak-Kanak (TK) Tunas Harapan, Desa Tegal Badeng Timur, Jumat (25/7/2025) pagi. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 Wita ini menjadi bagian dari program “Polisi Sahabat Anak”, yang dikemas dalam bentuk field […]

  • Estafet Kepemimpinan, Inda Swari Dewi Nahkodai WHDI Jembrana

    Estafet Kepemimpinan, Inda Swari Dewi Nahkodai WHDI Jembrana

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 406
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Organisasi Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Jembrana resmi mengalami penyegaran pengurus melalui pelantikan dan pengukuhan pergantian antar waktu untuk periode 2023 – 2028. Pelantikan dilakukan langsung oleh ketua WHDI Provinsi Bali dimana Inda Swari Dewi Patriana Krisna terpilih sebagai ketua WHDI Jembrana melanjutkan estafet kepemimpinan dari ketua sebelumnya Ni Wayan Yuniati. Pelantikan […]

  • Bupati Tamba Jalani Coklit Pilkada Serentak 2024

    Bupati Tamba Jalani Coklit Pilkada Serentak 2024

    • calendar_month Senin, 24 Jun 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Bupati Jembrana I Nengah Tamba menjalani pencocokan dan penelitian (Coklit) untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada Senin ( 24/6). Kesempatan itu Bupati juga mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), serta pejabat dari Provinsi Bali serta mengajak masyarakat mensukseskan pelaksanaan coklit secara serentak dimulai hari […]

  • Lomba Karaoke Masyarakat Pesisir Hiburan Malam Terang Bulan

    Lomba Karaoke Masyarakat Pesisir Hiburan Malam Terang Bulan

    • calendar_month Senin, 3 Jul 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 1.051
    • 0Komentar

    Jembrana (suarajembrana.com)- Hiburan pesisir adalah kendang, suling, dan yang identik irama dangdut dengan jogetannya. Apalagi karaoke yang merupakan hiburan masyarakat pesisir di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Hentakan musik dangdut dinikmati dari kalangan tua maupun anak muda. Inilah hiburan melepas penat menikmati masa padagangan (Purnama) demikian istilah bahasa di kampung Melayu pesisir. Antara peserta […]

expand_less