Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 497
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Comment

Rekomendasi Untuk Anda

  • Forum Bela Negara Optimalkan Rasa Berkebangsaan dan Junjung Tinggi Rasa Nasionalisme

    Forum Bela Negara Optimalkan Rasa Berkebangsaan dan Junjung Tinggi Rasa Nasionalisme

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 1.922
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Diketahui bahwa banyak persoalan anak bangsa ditengah hiruk pikuk kehidupan. Masyarakat di Bali yang masih kental dengan adat dan tradisi tentu akar rumput inilah yang kuat. Tak gampang tergoyahkan di tengah kemajuan era modern. Forum Bela Negara dibentuk langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI). Dimana dibina langsung oleh Marsekal Madya […]

  • Kapolres Jembrana Hadiri Pembukaan Kegiatan Pertikawan Regional Bali dan Nusa Tenggara

    Kapolres Jembrana Hadiri Pembukaan Kegiatan Pertikawan Regional Bali dan Nusa Tenggara

    • calendar_month Minggu, 19 Nov 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 726
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Kapolres Jembrana, AKBP I Dewa Gde Juliana, S.H, S.I.K, M.I.K., menghadiri pembukaan kegiatan Pertikawan Regional Bali dan Nusa Tenggara Tahun 2023. Acara ini berlangsung di Bumi Perkemahan Taman Nasional Bali Barat, Lingkungan Penginuman, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Sabtu 18/11). Kegiatan yang dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Pj. Gubernur […]

  • Jelang Hari Raya Idul Fitri Kodim 1617/Jembrana Gelar Bazar Murah

    Jelang Hari Raya Idul Fitri Kodim 1617/Jembrana Gelar Bazar Murah

    • calendar_month Rabu, 3 Apr 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Kodim 1617/Jembrana gelar bazar murah TNI, sambut Lebaran Idul Fitri 1445 Hijriyah yang dilakukan serentak oleh TNI di seluruh Indonesia, bertempat di Halaman Kantor Desa Airkuning, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana. Selasa (02/04/24). Terpantau Masyarakat sekitar sangat antusias untuk berbelanja bahan pokok dalam giat Bazar Murah TNI menyambut Idul Fitri 1445 Hijriah Sekadar […]

  • Bawaslu Jembrana Serentak Melantik 898 PTPS

    Bawaslu Jembrana Serentak Melantik 898 PTPS

    • calendar_month Senin, 22 Jan 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 508
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com- Sebanyak 898 Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) di Jembrana dilantik secara serentak, Senin (22/1/24). dalam upaya mempersiapkan jalannya pemilu. Pelantikan ini, yang diselenggarakan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jembrana dan Panwascam di 5 Kecamatan, terdiri Kecamatan Negara : 252, Kecamatan Jembrana : 178, Kecamatan Melaya : 169, Kecamatan Mendoyo : 210, dan Kecamatan Pekutatan […]

  • Lailatul Imtihan Pondok Pesantren Jami’atul Banin Tekankan Tafaqquh Fiddin

    Lailatul Imtihan Pondok Pesantren Jami’atul Banin Tekankan Tafaqquh Fiddin

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Ed27
    • visibility 192
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Lailatul Imtihan adalah malam ujian, malam pengujian, atau malam perayaan hasil ujian para santri di pondok pesantren. Demikian pelaksanaan di Pondok Pesantren Jami’atul Banin, Sabtu (14/2). Pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Jami’atul Banin Ustadz Asmani MZ sampaikan, pondok ini telah berdiri pada tahun 1976. Malam Lailatul Imtihan menghadiri penceramah kondangm Ustadz Abdul Goni, […]

  • KPK RI Sinergi Dengan Pemkab Jembrana Upaya Pencegahan Korupsi

    KPK RI Sinergi Dengan Pemkab Jembrana Upaya Pencegahan Korupsi

    • calendar_month Rabu, 11 Okt 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Satgas V.2 Direktorat Kordinasi dan Supervisi Wilayah V datangi Pemkab Jembrana. Kedatanganya tersebut untuk melaksanakan Rapat Pemantauan Dan Evaluasi Progres Tematik Penertiban Aset, Optimalisasi Pendapatan (Pajak), MCP dan SPI Pemkab Jembrana Periode Triwulan III 2023 bertempat di Ruang Rapat Lantai II Jimbarwana, Rabu (11/10). Rapat dibuka langsung […]

expand_less