Warga Pengambengan Resah, Sampah Berserakan di Pinggir Jalan
- account_circle Ed27
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 41
- comment 0 komentar

Jembrana – Tumpukan sampah liar yang berserakan di sepanjang Jalan Raya Pengambengan hingga diselokan sungai kering di perbatasan Desa Pengambengan dan Lelateng membuat warga resah. Kondisi tersebut diduga muncul setelah diberlakukannya kebijakan pengetatan pembuangan sampah di TPA Peh, di mana hanya sampah residu dan anorganik yang tidak dapat didaur ulang yang diperbolehkan masuk ke tempat pembuangan akhir.
Warga mengaku masih banyak masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah organik dan anorganik. Akibatnya, sebagian memilih membuang sampah secara sembarangan di pinggir jalan maupun di aliran sungai kering, sehingga mencemari lingkungan dan menimbulkan bau tidak sedap.
Salah seorang warga Banjar Munduk, Desa Pengambengan, Saifathul Halim (43), mengatakan aksi pembuangan sampah liar itu hampir terjadi setiap hari, terutama pada dini hari.
“Banyak orang lewat menggunakan motor maupun mobil sengaja membuang sampah di dekat rumah saya. Sampahnya berisi pampers, kain, botol plastik, sisa makanan hingga bulu ayam. Baunya sangat menyengat. Biasanya mereka membuang sekitar pukul 02.00 sampai 03.00 WITA. Pernah ditegur baik-baik, tetapi tetap membuang sampah lalu langsung kabur,” ujarnya, Jumat (17/07/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena lokasi tersebut merupakan kawasan yang kerap dilanda banjir. Ia khawatir tumpukan sampah di sungai kering akan menyumbat aliran air ketika musim hujan tiba dan memperparah banjir.
Sementara itu, Kepala Desa Pengambengan, Kamaruzzaman, mengatakan pemerintah desa terus mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Ia meminta warga mengikuti kebijakan Pemerintah Kabupaten Jembrana dengan mulai memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Selain itu, masyarakat juga didorong memanfaatkan teba tradisional maupun teba modern untuk mengolah sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
“Kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Sampah organik sebaiknya diolah sendiri melalui teba, sedangkan sampah anorganik dipilah sehingga tidak mencemari lingkungan dan bisa di jual,” kata Kamaruzzaman.
Berdasarkan laporan warga, sampah yang ditemukan di sejumlah titik diduga sengaja dibuang oleh oknum yang enggan memilah sampah sesuai aturan baru. Pemerintah desa berharap kesadaran masyarakat meningkat agar lingkungan tetap bersih dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan maupun potensi banjir di kawasan Pengambengan. ™
- Penulis: Ed27

Saat ini belum ada komentar