Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 604
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Proses Evakuasi Korban Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali

    Proses Evakuasi Korban Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 527
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Cuaca buruk yang melanda di perairan selat Bali mengakibatkan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tanu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali. Pada Kamis, (3/7/2025) pukul 12:10 dini hari. Kapal yang mengangkut 65 orang penumpang beserta kru Kapal mengalami kebocoran di ruang mesin hingga akhirnya terbalik. Hingga berita ini diturunkan, baru 6 orang ditemukan meninggal […]

  • Angkat Keragaman Budaya dan Tradisi Lokal, Usung Tema “Jana Kerthi Paramaguna Wikrame”

    Angkat Keragaman Budaya dan Tradisi Lokal, Usung Tema “Jana Kerthi Paramaguna Wikrame”

    • calendar_month Sabtu, 14 Sep 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 572
    • 0Komentar

    Jembrana  suarajembrana.com – Pawai budaya Jembrana serangkaian HUT Kota Negara Ke-129 secara resmi dibuka dengan pemukulan gong oleh Staf Ahli bidang pembangunan manusia dan kebudayaan Provinsi Bali I Made Sudarsana didampingi Bupati Jembrana I Nengah Tamba, Sabtu (14/9). Pawai tahun ini mengangkat tema Jana Kerthi Paramaguna Wikrame memiliki makna Harkat martabat manusia unggul. Ribuan seniman […]

  • Dolanan Anak Mepatung-Patungan Jembrana Memukau Penonton PKB 2025

    Dolanan Anak Mepatung-Patungan Jembrana Memukau Penonton PKB 2025

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 740
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Suasana Panggung Terbuka Ardha Candra Denpasar berubah meriah saat Duta Kabupaten Jembrana, Sekaa Dharma Kerti Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara tampil memukau membawakan garapan Dolanan Mepatung-Patungan dalam ajang Utsawa Gong Kebyar Anak-anak Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 Tahun 2025, Selasa (1/7/2025). Tampil bersama duta Kabupaten Karangasem, penampilan duta Kabupaten Jembrana sukses menyedot […]

  • Menkum RI Serahkan Sertifikat KIK Kesenian Jegog Jembrana

    Menkum RI Serahkan Sertifikat KIK Kesenian Jegog Jembrana

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Ed27
    • visibility 174
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Kementrian Hukum Republik Indonesia menyerahkan sertifikat menyerahkan sertifikat kekayaan intelektual komunal (KIK) kesenian Jegog kepada Pemerintah Kabupaten Jembrana. Penyerahan dilakukan oleh Menkum RI, Supratman Andi Agtas kepada Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan dalam acara Penyerahan Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual Provinsi Bali tahun 2026 bertempat di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, […]

  • Gencarkan, Satgas Gakkum Ops Patuh Agung 2025 Gelar Razia di Jalan Udayana Negara

    Gencarkan, Satgas Gakkum Ops Patuh Agung 2025 Gelar Razia di Jalan Udayana Negara

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 630
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Satuan Tugas (Satgas) III Penegakan Hukum (Gakkum) Operasi Patuh Agung 2025 Polres Jembrana kembali menggelar razia lalu lintas di Jalan Umum Udayana, Negara, Kamis (17/7/2025) pagi. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kasat Lantas Polres Jembrana Iptu Aldri Setiawan, S.Tr.K., yang juga menjabat sebagai Kasatgas III Gakkum dalam operasi ini. Razia yang berlangsung selama […]

  • Sebanyak 48 Pramuka Penggalang Jembrana IKuti Jambore Daerah Bali 2025

    Sebanyak 48 Pramuka Penggalang Jembrana IKuti Jambore Daerah Bali 2025

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 500
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Pemerintah Kabupaten Jembrana secara resmi melepas 48 Pramuka Penggalang yang akan mewakili Kabupaten Jembrana pada Jambore Daerah Bali Tahun 2025. Upacara pelepasan dipimpin oleh Sekda Jembrana sekaligus Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Jembrana, I Made Budiasa, mewakili Bupati Jembrana. Kegiatan berlangsung di Halaman Kantor Bupati Jembrana, Kamis (11/12). Jambore Daerah Bali Tahun 2025 akan […]

expand_less