Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Pendidikan » Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

Adat Tradisi Perjodohan Dara Pingitan di Kampung Muslim Loloan

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
  • visibility 659
  • comment 0 komentar

Jembrana suarajembrana.com – Hampir luput dari ingatan kita dahulu di kampung Loloan, Jembrana Bali pernah menganut tradisi yang amat kuat khusus bagi kaum perempuan yang dibatasi ruang gerak berinteraksi dengan masyarakat luar. Setiap keluarga yang memiliki anak gadis menginjak dewasa langsung terikat dengan tradisi ini. Obralan tradisi adat, budaya dan kesenian Loloan sangatlah menarik yang langsung di baca yang tulis Raden Ashari.

Penulis sejarah dan budayawan Raden Ashari menceritakan, dalil agama sebagai dasar kepatutan merupakan bentuk kepatuhan anak gadis terhadap kedua orang tua, karena maksud dari perlakuan itu sangat berkaitan dengan perjodohan dengan siapa kelak dia akan dipersandingkan. Lalu kemudian berjalannya waktu tradisi ini tidak terdengar lagi dalam sistem perjodohan, kini masyarakat telah melupakan dan tidak tertarik melanjutkan kembali, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tradisi itu semakin luntur dan punah.

banner 336x280

“Mula asal tradisi dara pingit ini bukanlah bawaan dari negeri asal (Bugis) tetapi mulai diajarkan oleh tokoh ulama pemimpin pesantren melalui dakwah dan fatwa memberi pengaruh sangat kuat terhadap norma kepantasan sikap seorang anak dara kepada orang tua dalam menghindari fitnah. Sehingga kontrol orang tua di dalam rumah mutlak diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan penuh keikhlasan dan ketaatan,” tuturnya.

Ashari juga menjelaskan, gadis yang dipingit tidaklah sendirian terkadang di dalam rumah ada dua atau tiga orang perempuan saudara sekandung yang harus taat mengikuti aturan sampai batas waktunya mereka dilepas menerima pinangan dari seseorang lelaki. Pada kondisi seperti itu maka tabu baginya apabila berpandangan mata kepada seorang laki yang tidak diketahui dari mana asalnya.

“Berlaku biasa seorang gadis atau anak dara yang baru usia baligh usia 13 tahun sudah tidak leluasa lagi bermain dengan teman diluar rumah sehingga seharian mulai menekuni pekerjaan di dapur, menjahit dan menenun kain. Kemudian pada hari jadwal tertentu mereka bersama beberapa teman menghadiri pengajian di pesantren belajar pendalaman agama disamping itu sebagai kegiatan menghilangkan kejenuhan didalam rumah,” ungkapnya.

“Kala itu kampung Loloan sepi dari orang lalu lalang maka sangat sulit melihat anak gadis berada diluar rumah, tetapi apa yang tidak ketahui dari balik bilik rumah justru mereka mengintip setiap orang yang melintas di depan rumah,” katanya.

Ashari juga secara detail menyampaikan, ciri yang membedakan dara pingit dengan gadis pada umumnya adalah selalu menggunakan kain awik yang diselempang menutup kepala sampai kebawah dengan sedikit wajah tertutup. Wajah tertutup menghindari diri dari pandangan lelaki lain, namun bila terjadi sesuatu yang tidak terduga karena kebetulan si gadis bertatapan muka dengan seorang lelaki dia akan terperanjat dan tersipu malu, kejadian itu akan memberi dampak antara rasa jengah (malu), kagum atau rasa bersalah dan selanjutnya jadi diskusi menarik antara sesama temannya.

“Diantara sesama anak dara pingitan itu ada rasa kegelisahan. Apabila usianya mendekati dua puluh tahun (sebutan perawan tua). Pada kondisi yang demikian takada kekhawatiran orang tua terhadap kelangsungan jodoh, akan ada keluarga terdekat menghubungi untuk menanyakan sesuatu tentang anak gadisnya sampai kepada kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga mengatur persyaratan dan penentuan hari pernikahan,” paparnya.

Secara gamblang Raden Ashari menuturkan, gadis pingit hanya diberi tahu dan menerima tawaran orang tua dia akan dijodohkan oleh seorang lelaki dari keluarga sepupu sendiri dan selama masa penantian sampai batas waktu untuk dinikahkan dia tidak akan pernah tahu rupa wajah calon suami itu, tetapi hanya mendengar cerita dari orang terdekat tentang sosok laki itu karena masih memilki ikatan darah keponakan dari bapak atau ibunya sendiri .

“Berjalannya waktu pesantren besar yang telah memberi aturan tentang tatanan dan norma kehidupan bermasyarakat harus kehilangan figur pemimpin kharismatik dan bahkan tidak ada pelanjut untuk memimpin perguruan tersebut,” ungkapnya.

Setelah kehilangan tokoh ulama lambat laun pengaruhnya semakin memudar hingga akhir tahun tujuh puluhan tidak terdengar lagi sebutan anak dara pingitan, terbuka pilihan teman hidup karena akses pendidikan tradisional dalam pesantren bergeser ke sistem pendidikan umum.

“Kemudian faktor lain adalah orang tua memberi pilihan anak gadis menempuh pendidikan formal terbuka sampai pada jenjang pendidikan menengah bahkan berlanjut ke perguruan tinggi,” katanya.

Ashari pun mengakhiri wawancara secara tegas bahwa tradisi anak dara pingit sangat melekat dalam pola ikatan perjodohan yang menjadi ciri kehidupan bermasyarakat di Loloan, pada akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat sendiri dan bahkan tidak ada yang sanggup mengulang kembali. Tidak ada yang menyesali saksi terakhir dari nenek-nenek yang kini berusia enam puluh tahun lebih menjadi bukti bahwa perjodohannya telah mengikuti tradisi sebagai anak dara pingitan.

 

Penulis : Raden Ashari

  • Penulis: Ed27

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tim PKK Jembrana Jadi Garda Terdepan Sosialisasi Pengelolaan Sampah

    Tim PKK Jembrana Jadi Garda Terdepan Sosialisasi Pengelolaan Sampah

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 989
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – PKK Kabupaten Jembrana menyambut hangat kehadiran Tim Penggerak PKK Provinsi Bali dalam kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) yang dilaksanakan selama dua hari, 26–27 November 2025. Kegiatan yang dilaksanakan di 5 Kecamatan ini menjadi momentum penting bagi PKK Jembrana dalam memperkuat peran keluarga dan masyarakat untuk turut ambil bagian dalam pengelolaan sampah […]

  • Kreativitas STT Se-Jembrana Bersinar di Lomba Ogoh-Ogoh Masikian Fest 2026

    Kreativitas STT Se-Jembrana Bersinar di Lomba Ogoh-Ogoh Masikian Fest 2026

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Ed27
    • visibility 664
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menyatakan kebanggaan dan dukungan penuhnya terhadap kreativitas tanpa batas generasi muda Jembrana dalam Parade Ogoh-Ogoh Tingkat Kabupaten yang digelar Kamis (12/3). Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Masikian Festival 2026 ini menampilkan 15 karya terbaik hasil seleksi ketat dari seluruh kecamatan. Dalam sambutannya, Bupati Kembang Hartawan yang […]

  • Sebanyak 200 Ekor Binatang di Vakasinasi Rabies di Desa Bakbakan

    Sebanyak 200 Ekor Binatang di Vakasinasi Rabies di Desa Bakbakan

    • calendar_month Senin, 29 Jul 2024
    • account_circle Ed27
    • visibility 588
    • 0Komentar

    Gianyar suarajembrana.com – Bintara Pembina Desa (Babinsa) Sertu I Gusti Ngurah Dharmawan bersama Babinkamtibmas Desa Bakbakan Aiptu I wanyan Suadnyana bersinergi ikut serta dalam melaksanakan pendampingan kegiatan Vaksinasi Rabies serentak pada hewan peliharaan Anjing maupun Kucing mencegah berkembangnya penyebaran penyakit Rabies. Sertu I Gusti Ngurah Dharmawan menjelaskan, dilaksanakan oleh Tim Dinas Kabupaten Gianyar, UPT Keswan […]

  • Subsatgas Binluh Ops Patuh Agung 2025 Polres Jembrana Gencar Sosialisasi di Jalan

    Subsatgas Binluh Ops Patuh Agung 2025 Polres Jembrana Gencar Sosialisasi di Jalan

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 379
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan disiplin masyarakat dalam berlalu lintas, Subsatgas Binluh Operasi Patuh Agung 2025 Polres Jembrana melaksanakan kegiatan penyuluhan dan pemasangan spanduk imbauan di Jalan Umum Udayana, Negara, Rabu (16/7/2025). Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 hingga 12.00 WITA ini dipimpin langsung oleh Kasubsatgas Binluh, AKP I Nyoman Pasar, S.H., bersama sejumlah […]

  • Kembang-Ipat Pastikan Hewan Qurban Tersalurkan Merata di Jembrana

    Kembang-Ipat Pastikan Hewan Qurban Tersalurkan Merata di Jembrana

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Ed27
    • visibility 577
    • 0Komentar

    Jembrana – Pemerintah Kabupaten Jembrana kembali menunjukkan komitmen dan kehadirannya di tengah masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Bupati I Made Kembang Hartawan dan Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana Krisna bersama Forkopimda secara resmi menyerahkan bantuan hewan qurban untuk masjid-masjid di seluruh wilayah Kabupaten Jembrana di UD Fajar, desa Banyubiru, Senin […]

  • Bang-Ipat Lepas Ekspor 64.800 Produk Telur Tetas ke Uni Emirat Arab

    Bang-Ipat Lepas Ekspor 64.800 Produk Telur Tetas ke Uni Emirat Arab

    • calendar_month Sabtu, 22 Mar 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 984
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Mendukung program pemerintah pusat untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi secara nasional, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan dan Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana Krisna melepas ekspor 64.800 telur tetas (HE) PT. Charoend Pokphand Jaya Farm ke Uni Emirat Arab bertempat di Desa Tued, Kecamatan Melaya Sabtu (22/3). Telur yang diekspor merupakan […]

expand_less