SPORT-3I Jadi Terobosan, Jembrana Siapkan Transformasi Pembinaan Atlet Berbasis Digital
- account_circle Ed27
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar

Jembrana – Pemerintah Kabupaten Jembrana mulai mendorong transformasi pembinaan olahraga melalui inovasi SPORT-3I (Strategi Pembinaan Olahraga Reformatted via 3 Pilar Integrasi). Strategi ini dirancang untuk membangun sistem pembinaan atlet yang lebih terintegrasi, modern, dan berkelanjutan, mulai dari lingkungan sekolah hingga jenjang olahraga prestasi.
Inovasi yang digagas melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana tersebut menjadi langkah strategis untuk menjawab persoalan belum optimalnya keterhubungan antara olahraga pendidikan dan olahraga prestasi, sekaligus memperkuat fondasi pencarian dan pengembangan atlet potensial di daerah.
Kepala Disdikpora Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, AP., M.Si., menjelaskan, pembinaan olahraga prestasi selama ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya belum terintegrasinya pendataan atlet antara satuan pendidikan, KONI, dan Pengurus Cabang Olahraga (Pengcab), terbatasnya dukungan pembiayaan, serta belum meratanya kompetensi tenaga pembina olahraga, Jumat (6/11/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menghambat proses identifikasi dan pengembangan atlet berbakat, terutama ketika potensi yang muncul sejak usia dini tidak diikuti sistem pembinaan yang berkesinambungan.
“Pembinaan atlet membutuhkan proses yang sistematis, berjenjang, dan berkelanjutan. SPORT-3I hadir sebagai langkah strategis untuk membangun ekosistem pembinaan olahraga yang mampu mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengantarkan potensi atlet menuju prestasi yang lebih tinggi,” jelas Anom Saputra.
Tiga Pilar Integrasi Jadi Fondasi SPORT-3I
SPORT-3I mengusung tiga pilar utama yang menjadi fondasi transformasi pembinaan olahraga Jembrana, yakni integrasi data dan digitalisasi pembinaan olahraga, integrasi regulasi dan tata kelola kelembagaan, serta integrasi sumber daya dan pembiayaan melalui kemitraan strategis.
Pada pilar pertama, SPORT-3I diarahkan untuk mengembangkan sistem informasi pendataan dan pencarian bakat olahraga atau talent scouting berbasis digital.
Salah satu terobosan yang disiapkan adalah konsep Digital Athlete Passport, yakni sistem pencatatan perjalanan dan perkembangan atlet secara berkelanjutan, mulai dari jenjang pendidikan hingga memasuki pembinaan olahraga prestasi.
Melalui sistem tersebut, potensi atlet diharapkan dapat teridentifikasi lebih dini, terdata secara sistematis, dan dipantau perkembangannya berdasarkan rekam jejak pembinaan.
Digitalisasi ini juga menjadi upaya mencegah hilangnya atlet potensial akibat terputusnya komunikasi dan pembinaan antara sekolah, organisasi olahraga, dan lembaga pembina.
“Dengan dukungan data yang terintegrasi, proses identifikasi dan pemetaan potensi atlet dapat dilakukan lebih sistematis, sehingga risiko hilangnya atlet berbakat atau lost talent akibat terputusnya pembinaan dapat diminimalkan,” paparnya.
Perkuat Koordinasi Sekolah, KONI, dan Cabang Olahraga
Selain digitalisasi, SPORT-3I juga menitikberatkan pada penguatan regulasi dan tata kelola kelembagaan.
Langkah ini diarahkan untuk membangun koordinasi yang lebih efektif antara Disdikpora, satuan pendidikan, KONI, serta Pengurus Cabang Olahraga dalam menjalankan pembinaan atlet.
Penyusunan regulasi, standar operasional prosedur (SOP), dan peta jalan pembinaan menjadi bagian penting untuk memperjelas pembagian peran, mekanisme seleksi, serta tahapan pengembangan atlet.
Dengan tata kelola yang lebih terstruktur, pembinaan olahraga diharapkan tidak lagi berjalan secara terpisah, melainkan menjadi satu sistem yang saling terhubung dan memiliki arah pengembangan yang jelas.
Kemitraan Jadi Alternatif Penguatan Pembiayaan
Tantangan pembiayaan juga menjadi perhatian dalam pengembangan SPORT-3I.
Anom Saputra menegaskan, pembangunan olahraga prestasi tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari satuan pendidikan, guru PJOK, komunitas olahraga, BUMD, hingga sektor swasta.
Untuk memperluas dukungan pendanaan, SPORT-3I mendorong pengembangan kemitraan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dan sponsorship.
Skema tersebut diharapkan dapat mendukung pembinaan atlet, penyelenggaraan kompetisi, pengembangan sarana olahraga, hingga peningkatan kapasitas pelatih tanpa sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kemitraan dirancang dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan saling memberikan manfaat, sehingga keterlibatan sektor swasta dapat menjadi bagian dari investasi sosial dalam pembangunan sumber daya manusia dan prestasi olahraga daerah,” katanya.
Guru PJOK Jadi Ujung Tombak Pencarian Bakat
Dalam transformasi pembinaan olahraga tersebut, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) ditempatkan sebagai salah satu aktor penting dalam menemukan dan mengembangkan potensi atlet usia dini.
Guru PJOK tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan jasmani di sekolah, tetapi juga diharapkan mampu mengenali kemampuan, minat, dan bakat olahraga peserta didik.
Untuk mendukung peran tersebut, SPORT-3I menyiapkan peningkatan kapasitas tenaga pembina melalui bimbingan teknis digital talent scouting, pengembangan kompetensi, serta fasilitasi sertifikasi atau lisensi kepelatihan.
Penguatan sumber daya manusia ini menjadi bagian dari upaya membangun pembinaan atlet yang lebih profesional, terstandar, dan didukung pendekatan ilmu pengetahuan keolahragaan atau sport science.
Implementasi Bertahap, Targetkan Ekosistem Olahraga Berkelanjutan
Anom menjelaskan, implementasi SPORT-3I dilakukan secara bertahap melalui penguatan tim kerja dan koordinasi lintas sektor, penyusunan regulasi dan SOP, pengembangan sistem informasi digital, penjajakan kemitraan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dalam jangka menengah, program ini diarahkan pada perluasan pendataan atlet digital ke seluruh kecamatan dan satuan pendidikan di Jembrana.
Selain itu, penguatan konsorsium pembiayaan kemitraan, integrasi kalender kompetisi, serta penyempurnaan mekanisme seleksi atlet menjadi bagian dari agenda pengembangan.
Sementara dalam jangka panjang, SPORT-3I diharapkan mampu membentuk ekosistem pembinaan olahraga yang mandiri, transparan, dan berkelanjutan.
Keberhasilan inovasi ini tidak hanya diukur dari tersedianya regulasi dan sistem digital, tetapi juga dari kesinambungan pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih, serta capaian prestasi olahraga Jembrana di tingkat regional maupun nasional.
“SPORT-3I bukan sekadar inovasi program, melainkan transformasi tata kelola pembinaan olahraga Kabupaten Jembrana melalui sinergi tiga pilar integrasi, kolaborasi multipihak, dan pemanfaatan teknologi digital untuk mewujudkan pembinaan olahraga yang sistematis, terukur, dan berorientasi pada prestasi,” pungkasnya.
Melalui SPORT-3I, Pemkab Jembrana berharap pembinaan atlet dapat berlangsung lebih terarah sejak usia dini, potensi olahraga daerah semakin terpetakan, serta lahir atlet-atlet berkualitas yang mampu memperkuat daya saing dan mengharumkan nama Jembrana di berbagai ajang olahraga. ™
- Penulis: Ed27

Saat ini belum ada komentar