Panggung Budaya Ambenan Ijo Gading Gelar Diskusi Budaya, Perkuat Pelestarian Tradisi Muslim Loloan
- account_circle Ed27
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar

Jembrana – Panggung Budaya Ambenan Ijo Gading menggelar Diskusi Budaya yang mengangkat seni, budaya, dan tradisi masyarakat Kampung Loloan di Ambenan Ijo Gading, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali. Kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat pelestarian warisan budaya lokal agar tidak tergerus arus modernisasi dan digitalisasi.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Hasbil Ma’ani, HM Yunus, dan Pramono AG, dengan moderator Fahrul Mahally. Sebanyak 100 peserta yang terdiri dari pelaku seni, budayawan, akademisi, hingga perwakilan pemuda-pemudi Muslim Jembrana mengikuti jalannya diskusi. Kegiatannye didukung oleh Kemeterian Kebudayaan, Danaindonesiana dan LPDP.
Program danaindonesia Perseorangan penerima manfaat Muztahidin, S.Kom kategori pendayagunaan ruang publik dengan tema “Ambenan Ijogading : Panggung Budaya Untuk Kemajuan Kebudayaan yang inklusif, harmonis dan berkelanjutan di Kampung Loloan “Danaindonesiana Tahun 2025. Di gelar dari tanggal 11 sampai 12 dengan berbagai suguhan budaya khas Loloan.
Hari pertama pada tanggal 11 Juli 2026 acara Nyapar dan Nyure dengan agenda Doa bersama anak yatim diiringi dengan penampilan burdah, kuliner Loloan, UMKM lokal, pameran dan juga akustik.
Kegiatan diawali dengan pertunjukan pencak palang pintu, tradisi khas masyarakat Loloan yang hingga kini tetap lestari. Para peserta juga menerima selendang tenun sebagai simbol pelestarian identitas budaya masyarakat setempat, Minggu malam (13/07).
Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Awik dan Tari Mahaguru, dua karya seni yang mengangkat kisah kehidupan masyarakat Muslim Kampung Loloan. Sanggar Pilot dari KKN Universitas Negeri Malang turut menampilkan pertunjukan seni, disusul pemberian penghargaan kepada para penggerak komunikasi seni dan budaya.
Pelaku dan pemerhati budaya, Hasbil Ma’ani, mengatakan budaya lokal harus mampu bertahan sekaligus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
“Transformasi digital justru menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya kepada publik. Selama nilai-nilai budaya tetap dijaga dan dikembangkan, budaya akan terus hidup. Kita hidup berbudaya, maka kita akan berdaya,” ujar Hasbil Ma’ani yang merupakan anggota dewan PPP.
Sementara itu, HM Yunus menegaskan pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah. Menurutnya, ruang-ruang budaya harus terus diperkuat agar proses pewarisan tradisi berlangsung secara berkelanjutan.
“Budaya harus dipertahankan, dikembangkan, dan ditransformasikan. Pemerintah perlu menjadi teladan sekaligus mitra bagi pelaku seni dan budaya agar kebudayaan daerah semakin maju,” kata Haji Yunus merupakan anggota DPRD dari Partai PKB.
Pemerhati seni budaya sekaligus jurnalis Pramono AG menilai budaya masyarakat Muslim di Jembrana memiliki potensi besar yang perlu mendapat perhatian lebih, termasuk keberadaan rumah panggung khas Loloan sebagai bagian dari identitas budaya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menyangkut bahasa Loloan, tetapi juga mencakup warisan arsitektur, sastra, dan tradisi yang menjadi kearifan lokal masyarakat.
“Rumah panggung merupakan produk budaya yang harus dipertahankan. Budaya Muslim tidak hanya ada di Loloan, tetapi juga berkembang di Air Kuning, Cupel, Medewi, hingga berbagai wilayah lain di Jembrana. Seluruh potensi ini layak dijaga dan dikembangkan bersama,” tegasnya.
Melalui diskusi budaya ini, penyelenggara berharap lahir sinergi antara pemerintah, budayawan, akademisi, dan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan seni, budaya, dan tradisi masyarakat Muslim di Kabupaten Jembrana agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. ™
- Penulis: Ed27

Saat ini belum ada komentar