Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Dokar Pak Karim

Dokar Pak Karim

  • account_circle Ed27
  • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
  • visibility 1.041
  • comment 0 komentar

Oleh: Angga Wijaya

Masa kecil saya punya satu cerita yang selalu muncul setiap kali saya mendengar suara derap kuda—cerita tentang hari Minggu, tentang ibu angkat saya, dan tentang dokar milik Pak Karim.

banner 336x280

Setiap hari Minggu pagi, ketika sebagian orang memilih tidur lebih lama atau menyalakan televisi, ibu angkat saya justru punya agenda khusus untuk saya yaitu, keliling kota kecil kami di atas dokar.

Itu adalah hadiah kecil tapi sangat berarti—karena beliau tahu, saya sangat menyukai kuda. Setiap kali melihat kuda di jalan, mata saya langsung berbinar. Dan beliau, seperti bisa membaca isi hati saya, menjadikan dokar sebagai kebiasaan akhir pekan kami.

Dokar itu sederhana. Tidak berhias, tidak berwarna mencolok. Tapi dari tempat duduk kayunya, saya merasa seperti penumpang paling istimewa. Kusirnya bernama Pak Karim. Beliau warga asli Loloan, sebuah kampung tua di kota Negara, Jembrana, Bali. Kampung Loloan dikenal sebagai tempat tinggal komunitas Bugis-Melayu yang telah lama menetap di sana.

Tapi waktu kecil, saya belum paham soal sejarah. Yang saya tahu, Pak Karim orangnya ramah dan sabar. Suaranya berat tapi menenangkan. Kalau saya banyak bertanya, beliau tidak pernah marah.

Saya duduk di depan, dekat Pak Karim, memandangi surai kuda yang bergoyang pelan saat berjalan. Angin pagi mengelus pipi, dan suara “tap… tap…” dari kaki kuda seperti lagu pengantar yang selalu saya tunggu-tunggu.

Kadang saya bertanya, “Pak, kuda ini dikasih makan apa?” atau, “Kenapa kakinya dikasih sepatu besi?” Dan Pak Karim akan menjawab dengan sabar, sambil sesekali tersenyum kecil.

Ibu saya duduk di belakang. Beliau tak banyak bicara, hanya sesekali menanggapi obrolan kami atau menunjuk arah yang ingin dituju. Mungkin bagi orang lain, itu hanya perjalanan pendek keliling kota. Tapi bagi saya, itu seperti perjalanan istimewa yang menyatukan kami bertiga—saya, ibu, dan Pak Karim.

Saya tidak tahu apakah ibu angkat saya membayar Pak Karim setiap minggu, atau sudah ada kesepakatan di antara mereka. Yang jelas, tak pernah ada Minggu yang terlewat tanpa dokar, selama masa kecil saya di kota Negara.

Kini, setelah dewasa, saya mulai mengerti bahwa ibu saya tidak sekadar mengajak saya naik dokar. Beliau sedang menunjukkan kasih sayang dengan cara yang paling saya mengerti—melalui suara kuda, melalui jalan-jalan pagi, melalui waktu yang kami habiskan bersama tanpa tergesa-gesa.

Saya juga baru sadar bahwa dokar itu bukan sekadar kendaraan, tapi bagian dari kenangan. Bagian dari cara saya memahami kasih ibu, dan cara saya mengingat kampung halaman. Saya tidak tahu di mana Pak Karim sekarang. Apakah ia masih menarik dokar, atau sudah menikmati masa tua di Loloan. Tapi nama dan wajahnya tetap saya ingat. Sama seperti saya mengingat suara roda kayu yang menggilas jalan, atau embusan angin pagi yang menyelinap lewat celah kursi.

Hari ini, suara dokar di kota sudah jarang terdengar. Mesin-mesin menggantikannya. Tapi bagi saya, suara dokar Pak Karim tetap hidup dalam ingatan. Ia membawa saya kembali ke masa kecil yang hangat, ke kota kecil yang tenang, dan ke sosok ibu yang mencintai dengan cara yang lembut dan diam-diam.

Kini, di depan Pasar Umum Negara, pasar tradisional yang baru direvitalisasi di jantung Kota Negara—masih terdapat pangkalan dokar yang melayani rute keliling kota. Kehadiran dokar-dokar ini bukan sekadar moda transportasi, melainkan juga bagian dari upaya pelestarian warisan budaya yang nyaris punah di banyak kota lain di Bali.

Dokar yang dulunya merupakan pemandangan sehari-hari, kini justru menjadi sesuatu yang istimewa—mengingatkan kita pada masa lalu yang sederhana dan hangat.

Melihatnya kembali hadir di kota ini, membuat saya merasa seperti kembali dipertemukan dengan kenangan tentang Pak Karim, ibu, dan hari Minggu pagi yang selalu saya nanti-nanti. ™

  • Penulis: Ed27

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dandim 1617/Jembrana Pimpin Upacara Paripurna Kepada Para Prajurit

    Dandim 1617/Jembrana Pimpin Upacara Paripurna Kepada Para Prajurit

    • calendar_month Jumat, 17 Nov 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 629
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Bertempat di Lapangan Apel Makodim 1617/Jembrana, Jalan I Gusti Ngurah Rai, No.135, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan/Kabupaten Jembrana Seluruh Anggota Kodim 1617/Jembrana mengikuti Upacara Tujuh Belasan/Paripurna, bertindak sebagai Irup Dandim 1617/Jembrana Letkol Inf Teguh Dwi Raharja, S.Sos, selaku Komandan Upacara Pa Sandi Kodim 1617/Jembrana Lettu Inf I Made Sujana Arianta dan Selaku Paup Batilog […]

  • Peringati Hari Tumpek Kandang, Ratusan Tukik Dilepas ke Alam Liar

    Peringati Hari Tumpek Kandang, Ratusan Tukik Dilepas ke Alam Liar

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Ed27
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Jembrana – Pemerintah Kabupaten Jembrana memperingati Hari Tumpek Uye (Tumpek Kandang) dengan melepas 200 ekor tukik di lokasi Konservasi Penyu Kurma Asih, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Sabtu (5/9). Aksi pelepasliaran satwa ini diikuti langsung oleh Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana Krisna, serta Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri […]

  • Dandim 1617/Jembrana dan Istri Turut Hadiri Puncak Acara HUT Kota Negara Ke-128

    Dandim 1617/Jembrana dan Istri Turut Hadiri Puncak Acara HUT Kota Negara Ke-128

    • calendar_month Sabtu, 19 Agt 2023
    • account_circle Ed27
    • visibility 641
    • 0Komentar

    Jembrana suarajembrana.com – Puncak acara pawai budaya menyambut HUT Kota Negara ke-128 dibuka secara resmi Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Sabtu (19/8). Barisan pawai dilepas ditandai pemukulan kulkul oleh Wagub Bali bersama Bupati Jembrana I Nengah Tamba. Dandim 1617/ Jembrana Letkol Inf.Teguh Dwi Raharja,S.sos beserta istrinya Luh Hesti Ranitasari. Menyaksikan sebanyak 2000 […]

  • Bupati Kembang Hartawan Buka Turnamen Billiard Dapat Melahirkan Atit Handal

    Bupati Kembang Hartawan Buka Turnamen Billiard Dapat Melahirkan Atit Handal

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 678
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan didampingi Wakil Bupati Jembrana IGN Patriana Krisna (Ipat) menghadiri sekaligus membuka Tournament Biliard Texas Pratama Cup II, Jumat (7/3)Tournament tersebut dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 7 sampai dengan 9 Maret 2025 bertempat di Balai Banjar Lelateng, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan […]

  • Kuota Beasiswa Jembrana Berkurang, Bupati Kembang Siapkan Upaya Penambahan di Tahap II

    Kuota Beasiswa Jembrana Berkurang, Bupati Kembang Siapkan Upaya Penambahan di Tahap II

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle Ed27
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Jembrana – Anggaran pendidikan khususnya beasiswa prestasi bagi mahasiswa asal Kabupaten Jembrana mengalami penurunan pada tahun ini. Kondisi tersebut terjadi akibat pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat yang berdampak langsung pada efisiensi anggaran daerah, sehingga kuota mahasiswa penerima bantuan terpaksa berkurang. Menanggapi hal itu, Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan yang didampingi Wabup I Gede […]

  • Apresiasi Kreativitas Yowana di Masikian Festival, Bupati Kembang Janji Tambah Anggaran Tahun 2026

    Apresiasi Kreativitas Yowana di Masikian Festival, Bupati Kembang Janji Tambah Anggaran Tahun 2026

    • calendar_month Minggu, 23 Mar 2025
    • account_circle Ed27
    • visibility 992
    • 0Komentar

    suarajembrana.com – Gelaran Masikian Festival Tahun 2025 yang mengangkat tema “Abhinaya Yowana Argya” telah berlangsung sukses dengan menghadirkan lomba ogoh-ogoh dewasa, ogoh-ogoh mini dan sketsa ogoh-ogoh selama tiga hari dari tanggal 20-22 Maret di Gedung Kesenian Ir. Soekarno. Pada malam terakhir, Sabtu (22/3) gelaran Masikian Festival secara resmi ditutup oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang […]

expand_less